Skip to main content
Jual VCC Untuk Verifikasi PayPal (2 dan 5 thn)

VLShop - iOSpedia - Klikbanjar - Selebshop - Accgaming - Enpedia - YAADb - Virtual - Syariah - Investasi
© Onlenpedia Blog Network ™

3 Alasan Kenapa Lazada Selalu Merugi Hingga Diakuisisi Alibaba

(Disclaimer: Postingan ini hanya sebatas analisa)


Kabar mengejutkan datang dari situs ecommerce kenamaan di Indonesia dan Asia Tenggara -- yaitu Lazada. Kabarnya, situs yang didirikan oleh Rocket Internet itu telah diakuisisi oleh raksasa ecommerce asal China, yaitu Alibaba. Kabar ini tentunya sedikit menyingkap sesuatu yang selama ini 'tak diketahui' oleh publik.

Apakah 'sesuatu' yang dimaksudkan itu?

Melihat 'superioritas' dari Lazada yang kerap beriklan di TV, publik dibuat terkesima melihat 'citra' dari situs tersebut. Ekspektasi publik (mungkin) menganggap Lazada sebagai salah satu perusahaan 'raksasa' dengan omset dan keuntungan super besar -- yang membuatnya nyaman dalam persaingan bisnis serupa. Banyak pihak menganggap Lazada sebagai perusahaan yang mapan dan berada di posisi yang 'aman'.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Tercatat -- Lazada selalu mengalami kerugian besar tiap tahunnya.

Meskipun didukung oleh banyaknya investasi, kemudian pertumbuhan omset yang positif -- namun kenyataannya semua itu tak mampu menutupi biaya operasionalnya. Dan pada puncaknya, hal itu semakin terlihat jelas tatkala Alibaba mengakuisisi Lazada. Hal itu jelas memperlihatkan bagaimana 'situasi sesungguhnya' dari Lazada yang konon kehabisan dana untuk 'bertahan hidup'.

Lantas, apa penyebab Lazada bisa terus merugi hingga diakuisisi Alibaba?


alasan kenapa lazada selalu merugi dan alasan diakuisisi lazada
©Lazada


Berdasarkan analisa kami, penyebab 'buruk'nya kinerja keuangan dari Lazada, antara lain:


1. Strategi promosi yang kurang efisien

Kalau diamati dengan seksama, strategi promosi Lazada lebih banyak kepada iklan dan iklan. Proporsi iklan mereka kebanyakan di media televisi dan media online -- seperti FB Ads dan Google Adwords.

Untuk promosi di media online seperti FB Ads dan Google Adwords bisa dibilang biayanya tak terlalu besar. Yang membuat Lazada 'kerepotan' adalah biaya iklan di stasiun TV Nasional yang tentunya menguras budget.

Hal inilah yang kemungkinan besar membuat Lazada 'keteteran' dalam mengelola keuangannya. Andai saja strategi promosi mereka diimbangi dengan riset pasar, inovasi produk dan pengadaan event-event offline -- mungkin bisa mengurangi budget mereka -- ketimbang harus beriklan di TV secara terus menerus.



2. Sistem B2C, memungkinkan riset dan lain-lain dilakukan sendiri

Dalam bisnis ecommerce ada sistem yang namanya B2C (Bussines to Costumer) dan C2C (Costumer to Costumer). Untuk sistem yang dipergunakan Lazada adalah B2C, di mana mereka berperan sebagai penyedia barang yang langsung menjual ke konsumen. Sementara contoh dari sistem C2C bisa dilihat pada Tokopedia dan Bukalapak yang bertugas sebagai 'perantara' alias marketplace.

Jadi, Tokopedia dan Bukalapak tidak memiliki stok barang dan tidak menghandle pengepakan dan pengiriman barang -- sedangkan Lazada malah sebaliknya.

Dari penjelasan di atas, tampak jelas kalau peran Lazada sangat kompleks, meliputi:

- penyedia stok barang
- promosi
- melakukan pengepakan dan pengiriman
- riset produk
- inovasi
dan lain-lain.

Dengan banyaknya peran yang mereka handle, otomatis biaya operasional pun membengkak -- utamanya biaya gaji karyawan yang jumlahnya sangat banyak -- dan biaya pemeliharaan perlengkapan seperti gudang, troli, dan perlengkapan operasional lainnya. Bandingkan dengan Tokopedia dan Bukalapak yang tugasnya hanya sebagai 'penengah'. Budget mereka tentunya lebih efektif dan efisien.


3. Sistem B2C, banyak tanggungan dan resiko

Menyambung penjelasan dari poin kedua, sistem B2C yang dianut Lazada sepertinya 'kurang siap' mereka emban. Alhasil mereka memiliki banyak tanggungan seperti biaya-biaya yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, resiko-resiko seperti kerusakan barang saat dikirim, kerusakan barang yang tak laku, dan lain-lain menjadi tanggungan mereka.

Kalau sistem yang dianut Tokopedia dan Bukalapak, resiko-resiko yang dijelaskan di atas menjadi tanggungan penjual. Mereka hanya fokus dalam hal promosi dan 'perantara' saja.


Penjelasan di atas sebenarnya tidak mendiskreditkan sistem B2C -- yang memang 'kesannya' sangat kompleks.

Sebelumnya ada situs ecommerce raksasa dunia yang cukup sukses menjalankan sistem B2C, yaitu Amazon. Mereka memang menghandle segalanya dengan baik, profesional, efisien dan teratur -- meskipun sistemnya seperti Lazada. Namun yang membuat Amazon unggul adalah, adanya sistem affiliasi mereka yang cukup sukses mendatangkan banyak pembeli. Alhasil, konversi yang terjadi jauh lebih besar ketimbang budget / biaya yang harus dikeluarkan.

Di Lazada bukannya tak memiliki sistem Affiliasi, mereka sebenarnya punya sistem yang demikian. Hanya saja sistemnya tak sebagus dan tak seprofesional di Amazon. Banyak affiliate marketer yang mengeluh dalam hal perhitungan komisi yang terkesan 'sepihak', waktu pembayaran komisi yang molor dan lain sebagainya. Maka dari itu, Lazada tak bisa mengandalkan sistem affiliasinya untuk mengejar omset.


Penutup

Menarik memang, menyimak bagaimana 'terobosan' yang akan dilakukan Lazada pasca diakuisisi Alibaba. Banyak analis yang memperkirakan kalau mereka akan melakukan 'sesuatu yang menggebrak', mengingat kesuksesan Alibaba di daratan Tiongkok. Saat ini bisa dibilang kalau Alibaba adalah situs ecommerce nomor 1 di China.

Menurut prediksi, salah satu strategi yang mungkin dilakukan Alibaba dan Lazada adalah, memasok barang langsung dari China. Dari sini keunggulan mereka akan tampak jelas, karena harga produk di China sangatlah murah. Tentunya hal ini akan sedikit 'mengganggu' eksistensi produk-produk lokal -- lantaran (diperkirakan) akan kalah dari segi harga.

Baca juga:



Jadi, kita tunggu saja bagaimana dinamika dunia ecommerce di Indonesia ke depannya seperti apa.

Baca Juga
> Dapatkan profit hingga jutaan rupiah perbulan dengan bisnis PLR