--> Skip to main content
Jual Database Supplier, Hanya Rp 35.000



Amazon dan Alibaba ke Indonesia, 3 Hal ini yang Dilakukan Para "Pemain Lokal"

Onlenpedia.com | Potensi pasar ecommerce di Asia Tenggara bisa dibilang sangat menjanjikan. Jumlah transaksi yang akan terjadi diperkirakan lebih dari 1 kuadriliun di tahun 2017 ini.

Hal inilah yang membuat para 'pemain besar' ecommerce dunia bakal melebarkan sayap ke Asia Tenggara. Mereka adalah Amazon dan Alibaba yang merupakan 2 situs ecommerce terbesar saat ini.

Kabar di atas merupakan suatu pertanda buruk bagi para pemain lokal, seperti Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, Blibli dan situs jual-beli lainnya. Mengingat, dominasi Amazon dan Alibaba di negara asal mereka bahkan dunia, disinyalir juga bakal 'menjangkiti' kawasan Asia Tenggara.

Selain situs ecommerce lokal, kabarnya situs non ecommerce saja begitu khawatir dengan keberadaan Alibaba dan Amazon, sebut saja Google dan Facebook. Menurut data, orang-orang lebih sering melakukan pencarian produk langsung ke situs Alibaba dan Amazon. Hal ini tentu sedikit 'mengganggu' dunia periklanan yang mengandalkan iklan produk-produk ecommerce yang biasanya memiliki nilai CPC (Cost Per Click) yang cukup tinggi. Tentu, Google dan Facebook pun harus berfikir keras untuk mengatasi permasalahan ini.

Saat ini, kita kesampingkan dulu mengenai Facebook dan Google. Di sini akan kita bahas mengenai strategi yang dilakukan para 'pemain lokal' -- agar bisa survive apabila Amazon dan Alibaba sudah masuk ke Asia Tenggara.

Lantas, apa saja yang mereka lakukan?


amazon dan alibaba ke indonesia apa yang dilakukan situs lokal
Amazon dan Alibaba bakal ke Indonesia?


Berikut ini 3 hal yang dilakukan situs-situs besar Indonesia dalam 'menyikapi' masuknya Amazon dan Alibaba ke Indonesia, antara lain:



1. Fokus pada segmen produk tertentu

Semakin ke sini, situs-situs ecommerce besar seperti memiliki identitas masing-masing.

Tak seperti situs Zalora, Sociolla, Bhinneka, Berrybenka dan SaleStock yang sudah sejak awal memiliki identitas, sepertinya Tokopedia dan Bukalapak pun mulai memiliki 'ciri khas' tersendiri. Tampaknya di kedua situs tersebut lebih laris dalam menjual produk-produk elektronik, gadget, aksesoris gadget, dan mainan. Sepertinya untuk produk fesyen, kecantikan, kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan bayi tak terlalu laris di 2 situs marketplace raksasa tersebut.

Ini menandakan kalau masing-masing situs, sudah memiliki 'identitas' masing-masing, yang mana hanya segmen produk tertentu saja yang populer di situs-situs tersebut.


2. Melebarkan sayap ke ranah fintech

Poin kedua ini tampaknya 'meniru' Alibaba yang sukses 'mengorbitkan' Alipay di China.

Tokopedia dan Bukalapak memang sudah sejak awal memiliki escrow masing-masing. Namun, kedua situs tersebut mulai 'melebarkan sayap' ke ranah fintech (Financial Technology) baru-baru ini. Hal itu bisa dilihat dari Tokopedia yang memiliki fitur pinjaman modal online, dan Bukalapak yang memiliki fitur reksa dana online bernama BukaReksa.

Sangat jelas bukan, kalau Tokopedia dan Bukalapak mulai menjamah dunia fintech? Sebagai tambahan, Tokopedia memiliki fitur lainnya seperti jual tiket kereta api, jual pulsa, kuota internet, bayar listrik, BPJS, dan lain-lain secara online. Demikian pula dengan Bukalapak yang juga memiliki fitur yang sama, namun minus jualan tiket kereta api. Ini merupakan langkah cerdas yang mereka lakukan agar bisa terus survive.


3. Bersiap-siap IPO ke lantai bursa

Agar bisa terus survive dalam menghadapi persaingan yang 'menggila', situs-situs besar lokal mulai berfikir untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) ke lantai bursa. Hal ini sebagai langkah untuk mendapatkan tambahan modal, agar bisa terus survive dan bahkan berkembang. Namun ada pula yang (mungkin) bertujuan untuk exit, alias menjual seluruh saham ke publik. Adapun 2 situs lokal yang kabarnya serius untuk IPO adalah Bukalapak dan Kaskus.

Seandainya Bukalapak dan Kaskus sudah melakukan IPO, maka mereka harus terbuka dalam mengumumkan laporan keuangan perusahaan. Selama ini diketahui kalau perusahaan berbasis internet begitu tertutup dalam pembukuannya. Hal itu tak lepas karena dalam beberapa tahun berjalan, perusahaan-perusahaan internet kerap merugi. Hal itu terjadi pada Bukalapak, Tokopedia dan GO-Jek yang kabarnya hingga saat ini (masih) merugi, dan (masih) mengandalkan uang investor untuk tetap survive.


Baca juga:



Kabarnya, dalam waktu dekat ini Amazon akan membangun kantor cabang mereka di Singapura sebagai langkah ekspansi mereka ke Asia Tenggara. Sedangkan Alibaba sudah masuk ke Asia Tenggara, yakni melalui akuisisi yang mereka lakukan terhadap Lazada senilai Rp 13 trilliun. Jadi, bersiap-siaplah para pemain lokal untuk menghadapi persaingan yang kian sengit, gara-gara kehadiran para 'sesepuh' ecommerce tersebut!


Baca Juga
> Opini Kami Mengenai Sisi Gelap Bisnis Online di Era Sekarang