--> Skip to main content



Mengenal Sistem Ekonomi Mesir, Salah Satu Negara di Benua Afrika

Onlenpedia.com | Setelah sebelumnya membahas tentang sistem ekonomi Arab Saudi, kali ini kita akan membahas tentang sistem ekonomi negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya yakni Mesir.

Lantas, seperti apakah sistem ekonomi yang dianut mesir?


sistem ekonomi yang dianut mesir negara afrika islam syariah
Sistem perekonomian Mesir / gambar bendera Mesir


Sistem perekonomian Mesir

Mesir merupakan salah satu negara paling maju di benua Afrika. Adapun sistem ekonomi yang dianut negara ini masih bergantung pada hasil alam, seperti pertanian, ekspor minyak bumi, dan ekspor gas alam. Selain itu, negara ini juga mendapatkan pemasukan dari media, pariwisata, dan devisa dari tenaga kerja di luar negeri yang bekerja di Arab Saudi, Teluk Persia, dan Eropa.

Sebagai negara agraris, Mesir sangat bergantung pada keberadaan Sungai Nil. Penyelesaian Bendungan tinggi Aswan (1970) dan resultan Danau Nasser telah menghasilkan tempat yang dihormati sepanjang masa dari Sungai Nil dalam pertanian dan ekologi negara Mesir.

Sejak tahun 2004, Mesir memberlakukan nilai tukar mengambang, agar nilai tukar terjaga di angk 6 EGP per 1 USD. Pasca terjadinya krisis politik, kebijakan ini semakin sulit dipertahankan, lantaran dihadapkan pada turunnya pendapatan dalam valuta asing dan aliran modal investasi secara tajam.

Perdagangan Mesir mengalami defisit dari $ 37,1 milyar menjadi $ 21,7 milyar di tahun 2011. Hal itu juga tidak diimbangi lagi oleh pendapatan dari sektor investasi dan pariwisata yang juga menurun. Diperkirakan sistem subsidi yang tidak fleksibel-lah yang menjadi penyebab tingginya angka impor hingga membuat perekonomian Mesir defisit.

Meskipun terjadi defisit, namun neraca perdagangan jasa tetap positif ($ 5,4 milyar), meski terus menunjukkan tren penurunan dari USD 10,3 milyar pada 2009/2010 dan USD 7,9 milyar pada 2010/11. Adapun yang menyebabkan penurunan tersebut adalah dari sektor pariwisata dan investasi yang tengah menurun. Kemudian terjadilah defisit neraca yang meningkat dari 2,6% dari PDB (2011), menjadi 3,3% dari PDB (2012).

Mesir memiliki partner dagang utama, yakni negara-negara Uni Eropa (UE). Kerjasama tersebut mampu menghasilkan $ 11 milyar ekspor Mesir, dan Mesir mengimpor lebih banyak, yakni sebesar $ 19,3 milyar dari UE (2011/2012). Dari negara-negara UE, Italia adalah mitra dagang terbesar Mesir, yakni 20,7% dari nilai ekspor UE.

Selain dengan negara-negara Uni Eropa, Mesir juga memiliki partner dagang dari negara lainnya, seperti Amerika Serikat (10%), negara-negara di kawasan Asia (20%), dan negara-negara Afrika (2%).


Pasca revolusi di Mesir

Setelah terjadinya revolusi, otoritas baru di Mesir berupaya meningkatkan partisipasi sektor swasta Mesir dalam proyek-proyek infrastruktur di seluruh Afrika dan mendukung inisiatif pelatihan dan capacity building di benua tersebut.

Dari sektor Investasi justru mengalami penurunan lantaran 'lari'nya modal jangka pendek dan jangka panjang. Neraca negatif terlihat pada investasi portofolio bersih (2011/2012), yakni sebesar $ 5 milyar. Sedangkan neraca PMA bersih tetap berada di posisi positif, yakni sebesar $ 2 milyar, namun modal keluar naik 2 kali lipat sejak 2 tahun terakhir, yakni sebesar $ 9,7 milyar. Sedangkan modal masuk lebih besar, yakni sejumlah $ 11,8 milyar. Adapun kawasan yang paling banyak berinvestasi di Mesir adalah dari Uni Eropa, yakni sebesar 82% dari total Investasi di Negeri Firaun tersebut (2011/2012).

Dari sektor swasta menyumbang 62% dari PDB dan mempekerjakan 70% dari total angkatan kerja di Mesir. Padahal sebelum revolusi, Mesir memiliki birokrasi yang sangat membebani, korupsi, dan kompetisi yang tidak memadai di banyak sektor. Selain itu, kurangnya ketebukaan dan proteksi terhadap segmen pasar membuat terjadinya perombakan besar-besaran dalam perekonomian -- sebagai salah satu tuntutan dalam revolusi di Mesir.

Berdasarkan Indeks Daya Saing Global dari World Economic Forum, Mesir berada di posisi ke-107 dari 146 negara (2012/2013). Posisi ini turun dari sebelumnya yang berada di urutan ke-81 (2010/2011). Kemudian berdasarkan laporan Doing Business 2013 dari Bank Dunia menempatkan Mesir di urutan ke-109 dari 183 negara, turun dari posisi 108 (2011). Meski begitu, peringkat Mesir naik dari yang awalnya 110 (2012). Sebagai tambahan, Mesir berada di urutan ke-144 dari 184 negara dalam hal sub-indeks “pelaksanaan kontrak”, urutan ke-145 dalam pembayaran pajak, urutan ke-155 berdasarkan izin konstruksi, dan urutan ke-137 berdasarkan penyelesaian kebangkrutan.

Sejak terjadinya revolusi, banyak langkah yang telah diambil guna memperbaiki situasi di Mesir. Ada banyak kasus korupsi yang mulai diselidiki, hingga adanya beberapa dakwaan terhadap para pebisnis, mantan pejabat tinggi, dan menteri yang telah dilakukan. Sebagai tambahan, konstitusi baru mengamanatkan pembentukan komisi anti korupsi nasional guna memerangi praktik korupsi di negara tersebut.


Baca juga:



Itulah dia penjelasan mengenai sistem ekonomi Mesir, salah satu negara di benua Afrika. Sama halnya dengan Indonesia, Mesir juga memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Hanya saja pengelolaan hasil alam yang buruk, ditambah maraknya praktik korupsi, membuat negara tersebut kesulitan untuk maju.

Bagaimana tanggapan anda?


(Sumber: Wikipedia.org)


Baca Juga
> Opini Kami Mengenai Sisi Gelap Bisnis Online di Era Sekarang