--> Skip to main content



3 Cara Mengatasi Agar Uang Dari Indonesia Tak "Mengalir" ke Luar Negeri

Onlenpedia.com | Mengalirnya uang dari Indonesia ke luar negeri -- merupakan salah satu penyebab kenapa perekonomian di negara kita kian lesu. Hal itu dikarenakan banyaknya produk luar negeri yang beredar di Indonesia -- kemudian dibeli orang-orang Indonesia -- dan uangnya mengalir ke kantong orang luar negeri.

Apa yang terjadi di Indonesia tentu sangat berbeda dengan China yang justru lebih banyak uang mengalir ke dalam negaranya. Tidak heran kalau perekonomian China begitu maju, karena perputaran uangnya yang begitu besar -- hasil dari penjualan produk-produknya ke luar negeri.

Lantas, adakah caranya agar uang-uang dari Indonesia tidak mengalir ke luar negeri?

Sulit memang untuk bisa mewujudkan hal di atas -- namun, 3 cara di bawah ini mungkin bisa mewujudkannya, meski secara perlahan.

Berikut ini 3 cara agar uang dari Indonesia tidak mengalir ke luar negeri, diantaranya:


cara agar uang orang indonesia tak mengalir ke luar negeri
Cara agar uang dari Indonesia tidak mengalir ke luar negeri / via Pixabay



1. Pebisnis lokal harus mampu bersaing dengan 'pemain luar'

Salah satu penyebab kenapa uang dari Indonesia bisa mengalir ke luar negeri adalah karena masyarakat Indonesia membeli produk-produk impor dari luar negeri. Kebanyakan produk luar negeri yang laris di Indonesia adalah yang bergerak di bidang teknologi, seperti produk otomotif, elektronik, gadget, serta produk-produk inovatif murah yang diimpor dari China.

Mengapa produk-produk di atas laku keras di Indonesia?

Penyebabnya karena belum ada orang Indonesia yang mampu menciptakan produk berteknologi tinggi seperti produk otomotif, elektronik, dan gadget. Alhasil, orang-orang Indonesia harus membeli produk-produk impor yang memang dibutuhkan tersebut.

Ke depannya, agar produk buatan lokal bisa bersaing dengan produk impor -- diupayakan agar kualitas pendidikan ditingkatkan -- utamanya dalam bidang teknologi. Kemudian, pemerintah jangan 'pelit' dalam membiayai riset para inovator lokal, karena masa depan industri teknologi ada di sana. Kapan lagi, kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?


2. Beri aturan ketat bagi produk luar negeri yang dijual di Indonesia

Cara kedua ini sepertinya sudah diterapkan oleh pemerintah, terutama dalam produk-produk impor yang bergerak di bidang teknologi.

Aturan ini bernama TKDN, singkatan dari Tingkat Kandungan Dalam Negeri. Sesuai namanya, aturan ini mengharuskan produk impor di bidang teknologi harus mengandung unsur-unsur dalam negeri sebanyak sekian persen. Jadinya produk yang diimpor -- tidak pure 100% 'kandungannya' dari luar negeri.

Aturan ini menurut admin sangatlah bagus. Namun, usahakan agar ke depannya bisa menyentuh lebih banyak produk, termasuk produk-produk konsumer.


3. Cintai produk buatan dalam negeri

Kalau dua cara di atas dari sisi produsen dan produk, cara ketiga ini adalah dari sisi konsumen / pembeli yang (juga) perlu dibenahi.

Memang betul, kualitas dan harga produk dari luar negeri menjadi daya tarik masyarakat untuk membelinya. Namun, apabila ada produk lokal yang mampu bersaing -- tentu ini bisa dijadikan pilihan utama bagi masyarakat.

Masyarakat harus menyadari bahwa 'membeli produk lokal sama dengan memajukan perekonomian nasional'. Setidaknya uang dari negera kita tidak mengalir ke luar negeri, karena produk dibuat oleh orang Indonesia dan diproduksi di Indonesia. Maka dari itu, 'cintailah dan belilah produk-produk hasil karya anak bangsa', demi kemajuan ekonomi Indonesia.


Baca juga:



Aliran uang dari dalam negeri menuju ke luar negeri memang tak terkendali. Ditambah lagi dengan era pasar bebas, di mana Indonesia menjadi 'pangsa pasar yang empuk' bagi negara lain -- lantaran jumlah penduduknya yang banyak, namun SDM-nya buruk. Alhasil, negara ini sulit bersaing dan harus rela menjadi 'sapi perah' negara lain.

Sampai kapan ini akan terjadi?

Entahlah. Selama rakyat Indonesia masih malas melakukan 'sesuatu' untuk kemajuan bangsa, selama itu pula Indonesia akan 'dijajah' perekonomiannya oleh negara lain.


Baca Juga
> Opini Kami Mengenai Sisi Gelap Bisnis Online di Era Sekarang