--> Skip to main content
Jual Database Supplier, Hanya Rp 35.000



Persentase Kegagalan Bisnis Ecommerce Mencapai 90%, Ini 3 Penyebabnya!

Onlenpedia.com | Besarnya potensi bisnis ecommerce membuat bisnis ini kian digandrungi. Semakin banyaknya situs-situs ecommerce yang bermunculan -- seakan membuktikan betapa besarnya potensi bisnis tersebut.

Namun dibalik besarnya potensi tersebut, beberapa pakar mengatakan bahwa kemungkinan kegagalan bisnis ecommerce mencapai 90%. Jadi hanya 10% sisanya-lah yang mampu bertahan.

Lantas, apa yang menjadi penyebab begitu besarnya persentase kegagalan dalam bisnis ecommerce?

Jawabannya bisa anda lihat pada 3 hal di bawah ini. Di sini akan dipaparkan mengenai 3 penyebab utama kenapa banyak bisnis ecommerce yang mengalami kegagalan, diantaranya:


penyebab besarnya persentase kegagalan bisnis ecommerce
Penyebab kegagalan bisnis ecommerce / via Pixabay



1. Banyaknya pemain besar

Besarnya potensi di ranah ecommerce membuat banyak pemain yang terjun ke bisnis tersebut. Bahkan banyak diantaranya merupakan situs-situs 'raksasa' yang sudah lama eksis dan kian dominan.

Biasanya situs-situs besar tersebut disokong oleh dana investor hingga trilyunan rupiah. Imbasnya, banyak situs menengah ke bawah yang kalah bersaing dan harus 'tumbang'. Biasanya kegagalan mereka lantaran kehabisan dana untuk menutupi biaya operasional -- dan tak mampu diimbangi oleh omset penjualan.

Maka dari itu, hanya 10% pemain ecommerce yang mampu bertahan, yang sebagian besarnya merupakan situs-situs besar. Sedangkan 90% sisanya harus rela menjadi 'tumbal' dalam kerasnya persaingan bisnis di ranah ini.


2. Faktor persaingan harga yang gila-gilaan

Semakin ketatnya persaingan bisnis ecommerce, maka hal itu berdampak pula pada ketatnya persaingan harga produk yang dijual.

Semakin murah harga produk yang dijual, maka semakin besar peluang untuk memenangkan persaingan. Hal itu didukung dengan karakteristik umum masyarakat Indonesia yang lebih condong ke 'sesuatu yang murah'. Apalagi dengan situasi ekonomi yang lesu, membuat masyarakat lebih 'sensitif' terhadap harga barang yang akan dibelinya.

Dengan persaingan ke arah 'banting harga' yang kadang tak rasional, tentu bisa berdampak pada 'rusak'nya harga pasar. Apabila harga pasar sudah 'rusak', maka keuntungan yang didapat akan sangat sedikit -- lambat laun, bisnisnya pun harus collapse.

Maka dari itu, apabila ingin 'ikut-ikutan' bersaing dalam 'banting harga', anda harus menemukan supplier yang menjual produk dengan harga yang super murah. Salah satunya adalah dengan impor barang langsung dari China.


3. Kurangnya kepercayaan konsumen dalam berbelanja online

Pada dasarnya, pasar ecommerce di Indonesia masih bertumbuh, alias belum sepenuhnya siap. Alhasil, ada beberapa faktor yang mempengaruhi persentase kegagalan bisnis ini, salah satunya adalah faktor kepercayaan konsumen.

Faktor kepercayaan inilah yang membuat jumlah pembeli online di Indonesia masih sangat sedikit. Konon, jumlah pembeli online di Indonesia berada di angka 1% dari jumlah penduduk. Itu artinya pasar ecommerce di Indonesia bagaikan 'sepotong kue yang kecil'. Dan 'sepotong kue kecil' itu harus diperebutkan oleh banyak pemain ecommerce. Tidak heran kalau cuma 10% yang mampu bertahan, dan 90% sisanya mengalami kegagalan.


Baca juga:



Persentase kegagalan dalam bisnis ecommerce memang sangat besar. Hal itu tak lepas dari pangsa pasar ecommerce di Indonesia yang terbilang masih 'muda' dan bertumbuh, sehingga pangsa pasarnya masih kecil. Kedepannya, pangsa pasar di Indonesia diprediksi akan melesat. Apalagi dengan dukungan pemerintah yang menargetkan pasar ecommerce Indonesia mencapai lebih dari 1 kuadriliun (2020), membuat potensi bisnis ini kian menjanjikan. Istilahnya, tinggal menunggu waktu saja -- maka bisnis ini akan menjanjikan persentase keberhasilan yang jauh lebih besar.

Komentar anda?


Baca Juga
> Opini Kami Mengenai Sisi Gelap Bisnis Online di Era Sekarang