Skip to main content
Jual VCC Untuk Verifikasi PayPal (2 dan 5 thn)

VLShop - iOSpedia - Klikbanjar - Selebshop - Accgaming - Enpedia - YAADb - Virtual - Syariah - Investasi
© Onlenpedia Blog Network ™

Sisi Gelap Bisnis Online (Part 2): Bagaimana Prospek Bisnis Reseller / Dropship Kedepannya?

Onlenpedia.com | Setelah sebelumnya membahas tentang sisi gelap bisnis online (part 1): bisnis affiliasi, kali ini kita akan membahas seri kedua dari 'sisi gelap bisnis online', yakni tentang prospek bisnis reseller / dropship ke depannya.

Memang betul, bisnis reseller / dropship sangat cocok untuk pemula. Bahkan bisnis ini bisa dijalankan dengan modal yang minim, khususnya bisnis dropship.

Akan tetapi, semua bisnis (online maupun konvensional) memiliki sisi gelap masing-masing. Hal itu juga berlaku pada bisnis reseller / dropship -- di mana prospek bisnis ini masih 'dipertanyakan' -- apakah bagus ke depannya -- atau tidak.



sisi gelap bisnis online reseller dropship prospek ke depan seperti apa
Sisi gelap bisnis reseller / dropship, apakah punya prospek?



Prospek jual-beli online secara umum

Tren jual-beli online secara umum memang sedang positif. Setiap tahun terus terjadi pertumbuhan transaksi secara online, begitu pula dengan jumlah pembeli online yang terus bertambah. Bisnis ini pun diprediksi akan terus bertumbuh, di mana jumlah transaksi diprediksi lebih dari 1.000 triliun di tahun 2020.

Melihat potensi yang sangat menggiurkan, maka banyak sekali situs jual-beli online yang bermunculan di Indonesia. Situs-situs tersebut, ada yang besar, menengah, ada pula yang kecil (dikelola individu). Kemudian, banyak juga pemula di dunia jual-beli online yang memulai bisnisnya sebagai reseller / dropship.


Prospek bisnis reseller / dropship saat ini

Untuk saat ini, prospek bisnis reseller / dropship masih cukup bagus -- mengingat masih banyak pembeli yang masih belum MELEK dengan keberadaan marketplace. Ya, para pembeli di Indonesia rata-rata lebih banyak membeli produk secara online lewat media sosial. Istilahnya adalah social commerce.

Yang namanya media sosial, tidak ada 'filter pembanding harga' antara penjual yang satu dengan penjual lainnya. Alhasil, apabila ada 'produk bersponsor' yang muncul di timeline pengguna, maka mereka langsung tertarik dengan produk tersebut.

Mereka pun langsung berniat untuk membeli produk yang diiklankan di medsos, tanpa melakukan riset harga, kualitas, dan lain sebagainya. Perlu diketahui, untuk melakukan riset harga termurah, umumnya dilakukan dengan mengecek langsung di situs marketplace seperti Tokopedia / Bukalapak.

Kenapa harus lewat marketplace?

Begini. Persaingan harga (dan persaingan lainnya) di marketplace sangatlah transparan. Pembeli bisa melakukan filtering dan mengurutkan produk, dari harga termurah, harga termahal, rentang harga, banyaknya penjualan, banyaknya ulasan, produk paling sesuai, dan produk terbaru. Dengan adanya transparansi harga dan lainnya, membuat pembeli bisa menemukan produk terbaik (dalam artian harga terbaik dan kualitas terbaik) di marketplace.

Bandingkan dengan produk yang diiklankan di media sosial, maka tak ada fitur filtering yang disediakan di sana. Seperti yang kita tahu, media sosial merupakan sarana berbagi tulisan / opini, foto, video, berita, dan interaksi antar pengguna. Tak seperti marketplace yang memang dari awal dibuat untuk melakukan kegiatan jual-beli online.


Apa jadinya kalau masyarakat sudah 'melek' marketplace?

Inilah yang jadi masalah besar bagi para reseller / dropshiper. Ketahuilah, harga produk di marketplace jauh lebih murah daripada produk yang dijual para reseller / dropshiper. Hal itu dikarenakan sebagian besar penjual di marketplace merupakan 'tangan pertama' -- dalam hal ini ada yang jadi produsen langsung, ada juga yang jadi importir langsung. Karena tanpa 'banyak tangan', alhasil harga yang ditetapkan seller di marketplace sangatlah murah. Selain itu, tuntutan persaingan dengan seller lainnya juga menjadi penyebab harga produk yang dijual sangatlah murah.

Lalu bagaimana dengan reseller / dropshiper?

Pada umumnya, reseller / dropshiper merupakan 'tangan kedua' atau bahkan 'tangan ketiga', yang menjual barang dengan harga sedikit lebih mahal. Apabila mereka menetapkan harga jual produk sama dengan seller di marketplace, maka mereka PASTI merugi.

Makanya, kebanyakan reseller / dropshiper 'menghindari' untuk berjualan di situs-situs marketplace (Tokopedia dan Bukalapak). Mereka lebih memilih untuk berjualan di toko online sendiri, atau di media sosial, atau di media chatting, atau kombinasi ketiganya. Hal itu, dikarenakan calon pembeli tidak tahu harga jual termurah dari produk yang dijual reseller / dropshiper tersebut (karena bukan di marketplace).


Bagaimana prospek bisnis reseller / dropship ke depannya?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, prospek bisnis reseller / dropship akan semakin TERPURUK apabila semua orang sudah 'MELEK' marketplace.

Bahkan Google pun mengakui, pendapatan mereka mulai menurun (dari iklan produk), karena orang-orang sudah melakukan pencarian produk LANGSUNG di situs marketplace. Untuk di Amerika Serikat orang-orang lebih banyak melakukan pencarian di situs ecommerce -- yakni di Amazon (sama-sama tidak lagi bergantung pada Google).

Hal senada juga terjadi di China, di mana Baidu (Google versi China) mengakui kalau pendapatan mereka dari iklan produk juga menurun. Kebanyakan konsumen langsung mengunjungi situs jual-beli di China, seperti Taobao dan TMall untuk melakukan pencarian produk.

Inilah yang ditakutkan para reseller dan dropshiper apabila masyarakat mulai 'MELEK' marketplace. Nasib reseller / dropshiper akan terpinggirkan lantaran KALAH TELAK dari segi persaingan harga. Seperti yang kita tahu, karakteristik orang-orang Indonesia lebih suka produk yang murah. 'Kalau ada yang murah, kenapa harus beli yang mahal?'

Apabila anda berprofesi sebagai reseller / dropshiper, penting untuk anda memikirkan prospek bisnis anda ke depannya. Daripada terus-terusan menjadi 'tangan kedua' atau 'tangan ketiga', mulailah untuk memikirkan untuk menjadi 'tangan pertama'.

Caranya?

Caranya yakni bisa dengan menjadi produsen langsung (buat produk sendiri), kerjasama dengan pabrik di dekat tempat tinggal anda, atau menjadi importir langsung.


Hidup adalah pilihan, di mana anda sendiri yang menentukan masa depan anda. Hal itu juga berlaku bagi anda yang berprofesi sebagai reseller / dropshiper -- agar mulai memikirkan prospek bisnis anda ke depannya.

Sekiranya pembahasan tentang 'sisi gelap bisnis online: prospek bisnis reseller / dropship' di atas bisa menjadi bahan pertimbangan anda dalam mengambil keputusan, yakni antara selamanya menjadi reseller / dropshiper, atau 'naik level' menjadi 'tangan pertama'.

Semua keputusan ada di tangan anda!


Baca Juga
> Dapatkan profit hingga jutaan rupiah perbulan dengan bisnis PLR