Skip to main content
Jual Saldo PayPal dan Amazon Gift Card

VLShop - iOSpedia - Klikbanjar - Selebshop - Accgaming - Enpedia - YAADb - Virtual - Syariah - Investasi
© Onlenpedia Blog Network ™

Sisi Gelap Bisnis Online (Part 5): "Ilusi" Valuasi Startup yang Tak Masuk Akal

Onlenpedia.com | Ilusi, rupanya tidak hanya terjadi pada dunia sulap (magic). 'Ilusi' rupanya juga ada dalam dunia startup, di mana ada beberapa startup yang 'memainkan' sebuah 'ilusi' bernama 'valuasi tak nyata'.

Mengapa disebut 'valuasi tak nyata'?

Jawabannya karena valuasi (nilai jual perusahaan) tak sebanding dengan profit yang didapat (bahkan tak sedikit startup yang terus merugi (secara rutin) justru memiliki valuasi yang tinggi).

Pada artikel sisi gelap bisnis online kali ini, admin akan mengangkat tema tentang 'ilusi valuasi startup' yang kadang tak masuk akal. Penjelasan selengkapnya, akan dipaparkan di bawah ini!


sisi gelap dunia startup online valuasi tak masuk akal
Sisi gelap dunia startup / via Pixabay


'Ilusi' valuasi startup yang tak masuk akal

Di mata orang-orang awam, startup raksasa lokal seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Jek merupakan perusahaan besar dengan laba yang besar pula. Umumnya memang seperti itu, kalau perusahaan besar (dengan valuasi besar) selalu mengalami profit besar tiap periode. Namun kenyataannya justru tidak seperti itu.

Kalau kita berkaca pada perusahaan-perusahaan besar dalam 'ranah' konvensional, maka 'valuasi raksasa' mereka tergolong nyata (real). Yang dimaksud real, karena valuasi yang besar sebanding / sejalan dengan laba perusahaan.

Agar anda mudah memahaminya, admin mencontohkan perusahaan-perusahaan besar 'konvensional' dengan 'valuasi nyata', seperti:

- Indofood

- Mayora

- Djarum

- Avian

dan perusahaan 'nyata' lainnya.

Contoh-contoh perusahaan di atas selalu menghasilkan profit, alias pendapatan yang lebih besar ketimbang beban operasionalnya. Maka dari itu, admin menyebutnya dengan istilah 'perusahaan bervaluasi nyata'.


Lantas, bagaimana dengan valuasi startup?

Sejauh ini, 'ilusi' valuasi startup memang tak diketahui orang banyak. Kebanyakan masyarakat melihat startup-startup besar sebagai perusahaan mapan, karena:

- sudah terkenal

- sering beriklan di TV

- brand yang kuat

- (terkadang) ada logo perusahaan yang terpampang di baliho di jalan raya

dan alasan lainnya.

Gara-gara 'imej' yang besar, membuat banyak orang 'tertipu' dengan kenyataan bahwa startup besar penuh dengan 'ilusi'.

Ketahuilah, admin berani mengatakan 'ilusi' valuasi startup karena nilai jual (valuasi) startup tak sebanding/sejalan dengan profit perusahaan.

Melanjutkan contoh startup yang dimaksud di atas, yakni Tokopedia, Bukalapak, Go-Jek, (dan startup lainnya), banyak orang yang tidak tahu bagaimana 'bisnis mereka bisa menghasilkan uang'. Promo harga murah, dan promo-promo 'tak masuk akal' lainnya sebenarnya bisa menyiratkan tentang 'darimana mereka mendapatkan uang?, apakah mereka bisa profit?, dan pertanyaan-pertanyaan simpel lainnya.'

Berdasarkan fakta yang admin dapat dari berbagai sumber, sampai saat ini startup raksasa seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Jek belum juga mendapatkan profit. Mereka setiap tahunnya 'rutin' dan 'konsisten' mengalami kerugian dari bisnis mereka.

Bagi anda yang tak percaya, silahkan googling dengan kata kunci 'Tokopedia rugi, Bukalapak rugi, dan Go-Jek rugi'. Nanti anda bisa mengetahui data kerugiannya secara jelas dan terperinci.

Maka dari itu, admin pun menyimpulkan bahwa VALUASI BESAR yang ada pada sejumlah startup tidaklah nyata -- alias hanya ILUSI belaka.


Kalau belum profit, kenapa valuasinya begitu besar?

Kali ini yang kita contohkan adalah startup lokal dengan valuasi terbesar saat ini yaitu Go-Jek. Pasca mendapatkan pendanaan Rp 16 triliun dari raksasa internet China, yaitu Tencent, Go-Jek mengalami 'lonjakan' valuasi, yakni menjadi lebih dari Rp 40 triliun. Ya, valuasi (nilai jual) perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu kini berada di angka Rp 40 triliun yang notabene merupakan jumlah yang sangat besar. Sementara itu, (dari segi bisnis) perusahaannya justru merugi di setiap tahunnya -- yang justru tak sejalan dengan valuasinya.

Mengapa valuasi mereka bisa sangat besar?

Admin sendiri kurang begitu tahu tentang siapa yang memiliki wewenang untuk menentukan valuasi sebuah startup. Yang pasti, mereka tak sembarangan dalam menetapkan 'harga jual' startup, karena bisa 'merusak' bisnis itu sendiri (kalau salah taksir).

Berdasarkan referensi dari berbagai sumber, valuasi startup yang besar ditentukan oleh:

- Prospek startup untuk 5-20 tahun ke depan.

- Peningkatan jumlah pengguna yang cukup signifikan.

- Produk / layanan yang disediakan startup apakah akan berkelanjutan.

- Model bisnis yang digunakan, akan menguntungkan berkali-kali lipat (di kemudian hari).

- Profit (jangka pendek) sepertinya bukan penentu valuasi startup.


Kalau terus merugi (dalam perkembangannya), bagaimana startup-startup di atas bisa bertahan?

Ketika startup masih dalam tahap pengembangan, maka mereka masih mencari model bisnis yang tepat untuk monetisasi mereka. Sebagai gambaran, Facebook saja butuh waktu bertahun-tahun untuk 'menemukan' model bisnis yang tepat. Sebelumnya perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckeberg itu kerap merugi setiap tahunnya -- bahkan selama 8 tahun berturut-turut. Dan sepertinya startup lokal mulai terinspirasi dengan Facebook, dan 'membiarkan' perusahaannya terus merugi -- demi memberikan layanan terbaik yang dibutuhkan masyarakat.


Baca juga:



Lantas, bagaimana cara mereka 'bertahan hidup'?

Jawabannya adalah, dengan DANA INVESTOR.

Mayoritas startup yang 'mengejar valuasi' pasti disokong oleh dana besar dari investor. Mereka pun harus 'membakar' dana tersebut untuk mengembangkan bisnis mereka, seperti mengadakan promo 'gila-gilaan', branding tanpa henti, rutin beriklan di televisi, dan strategi marketing lainnya.

Kemudian, perlahan tapi pasti -- mereka menerapkan model bisnis mereka dan menghasilkan pendapatan meski belum mampu menutupi biaya operasional. Meski begitu, dengan adanya pendapatan tersebut -- setidaknya bisa mengurangi ketergantungan pada dana investor.


Apakah bisnis seperti ini sehat?



apakah bisnis startup sehat
Apakah bisnis startup sehat? / via Pixabay


Kalau dilihat dari 'kacamata' founder startup yang bersangkutan dan para investornya, maka mereka menganggap kalau bisnis mereka sehat-sehat saja (dan justru memiliki prospek yang bagus di masa depan). Menurut mereka, yang penting menguasai pasar -- profit urusan nomor 2. Seandainya tak profit dan startup kehabisan dana -- mereka bisa melakukan IPO di lantai bursa. Seandainya IPO ditolak, mereka bisa 'melego' startup tersebut ke perusahaan lain agar diakuisisi. (Biasanya yang ditawari adalah perusahaan yang menjadi pesaing utama). Intinya, bisnis mereka ke depannya bakal menjadi uang (tapi tak tahu kapan hal itu akan terwujud).


Lantas, bagaimana menurut penilaian admin Onlenpedia.com?

Jujur, awalnya admin menilai kalau bisnis dengan konsep seperti di atas sangatlah bagus. Mereka tak terlalu memperdulikan uang (di awal), tapi mereka ingin memberikan layanan terbaik untuk masyarakat. Alhasil, berbagai promosi (yang kadang tak masuk akal) pun dilancarkan, yang tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit. Dan para startup dengan bidang sejenis bersaing dengan cara yang sama, yaitu 'bakar duit'.

Seiring waktu berjalan, admin pun mulai sadar dengan 'ketidak-beresan' bentuk bisnis tersebut. Apalagi setelah admin mendengar berita hengkangnya salah satu co-founder Kaskus yaitu Kent, admin semakin yakin bahwa bisnis 'bakar duit investor' sangat tak masuk akal.

Ketahuilah, salah satu alasan Kent keluar dari Kaskus adalah karena dirinya menyadari ada 'sesuatu yang salah' dalam industri digital, seperti 'ilusi valuasi', model bisnis yang tak kunjung menghasilkan profit, 'fake valuation' di lantai bursa, dan lain-lain. Kent pun akhirnya memutuskan untuk berbisnis di dunia nyata, yakni bisnis properti dan tambang -- karena hasilnya lebih nyata dan bisa diukur.

Jadi, senada dengan pendapat co-founder Kaskus, admin Onlenpedia pun menganggap kalau bisnis 'bakar duit investor' adalah bisnis yang TIDAK SEHAT. Menurut admin, bisnis yang sehat itu adalah bisnis yang menguntungkan secara real, seperti bisnis yang dijalankan oleh Indofood, Mayora, Apple, Samsung, Honda, Ford, BMW, dan bisnis yang 'menjual produk nyata' lainnya. Atau bisa juga bisnis blog, Youtube, dan bisnis online lainnya yang berpotensi menghasilkan PROFIT.

Kalau menjalankan bisnis dengan 'bakar duit' -- sedikit-sedikit diskon, sedikit-sedikit promo, dan hal itu dilakukan semua kompetitor, akibatnya tentu akan berakibat buruk bagi bisnis tersebut. Ada masa di mana uang investor habis 'dibakar', dan akhirnya ada startup yang mundur dari persaingan.


Baca juga:



Itulah dia pemaparan tentang sisi gelap bisnis online seri ke-5, yakni tentang 'ilusi' valuasi startup yang tak masuk akal. Bagi anda yang 'memandang' startup raksasa dari luarnya saja, maka selama ini anda sudah terkena sebuah 'ilusi'. Semoga artikel di atas bisa membuka mata anda, agar semakin menjauh dari 'ilusi' tersebut, selain tentu menambah wawasan anda seputar dunia bisnis startup di Indonesia.


Baca Juga
> Dapatkan profit hingga jutaan rupiah perbulan dengan bisnis PLR

LIHAT JUGA:

Cara menjadi reseller produk virtual di VLShop-Onlenpedia, GRATIS dan TANPA MODAL