Skip to main content
Jual VCC Untuk Verifikasi PayPal (2 dan 5 thn)

VLShop - iOSpedia - Klikbanjar - Selebshop - Accgaming - Enpedia - YAADb - Virtual - Syariah - Investasi
© Onlenpedia Blog Network ™

Bisnis Properti Semakin Lesu, Apa Penyebabnya?

Onlenpedia.com | Dunia bisnis di era sekarang rupanya tak semudah dan 'se-leluasa' di jaman dulu. Saat ini, dunia bisnis ditengarai semakin lesu, tak terkecuali dalam bisnis properti.

Bisnis properti sendiri -- meskipun menjual produk primer (papan/tempat tinggal), namun bisnis ini tetap saja lesu dalam beberapa tahun terakhir.

Lantas, apa yang menyebabkan bisnis properti menjadi kian lesu?

Jawabannya, silahkan baca tiga penyebabnya berikut ini!


apa penyebab bisnis properti perumahan jadi kian lesu
Kenapa bisnis properti semakin lesu? / ilustrasi via Pixabay


1. Penurunan daya beli masyarakat (akibat krisis ekonomi)

Dalam dua tahun terakhir, perekonomian kian lesu saja.

Tak hanya di Indonesia, bahkan secara global pun tengah mengalami krisis ekonomi yang cukup panjang.

Tentunya, krisis ekonomi akan berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat.

Dengan menurunnya daya beli masyarakat, maka sektor bisnis pun akan terpengaruh -- di mana omset / penjualan menurun drastis.

Hal yang sama juga berlaku pada bisnis properti, di mana banyak developer yang kesulitan menjual properti yang mereka kembangkan.

Dengan menurunnya daya beli masyarakat, otomatis masyarakat akan 'pikir-pikir' sebelum membeli sesuatu.

Apabila produk yang dijual tidak terlalu penting, maka masyarakat enggan membelinya.

Begitu pun dengan produk yang harganya terlalu mahal, masyarakat juga akan berfikir 1000 kali sebelum merogoh kocek untuk membelinya. Dan properti tergolong ke dalam produk yang harganya terlalu mahal.

Biasanya masyarakat memilih untuk menyewa properti, apabila mereka membutuhkannya.

Tentu biaya menyewa jauh lebih murah, ketimbang harus membeli properti.


Baca juga:



2. Banyak developer properti yang eksis (persaingan kian ketat)

Penyebab selanjutnya dari kelesuan bisnis properti adalah, banyaknya developer yang menjalankan bisnis ini.

Hal itu mengartikan kalau persaingan bisnis di ranah properti semakin ketat saja.

Semakin banyak 'pemain' dalam suatu bidang bisnis, mengartikan kalau 'jatah potongan kue' yang mereka dapat akan semakin terbagi.

Belum lagi sifat produk properti yang tak 'semurah' dan 'se-primer' produk kuliner, membuat 'potongan kue' di bisnis ini kian kecil.


3. Properti bekas lebih diminati ketimbang properti baru

Sulitnya menjual properti baru agaknya bertolak belakang dengan penjualan properti bekas.

Kebanyakan developer lebih banyak membangun properti baru, sementara pembeli lebih memilih properti bekas, karena 2 pertimbangan, yakni:

- Harga properti bekas jauh lebih murah ketimbang properti baru.

- Kebanyakan properti baru lokasinya agak terpencil, sementara untuk lokasi yang strategis -- biasanya lebih banyak properti bekas.

Alhasil, banyak developer yang gigit jari lantaran properti yang mereka jual tak kunjung laku.

Sementara mereka sudah menginvestasikan banyak uang, namun jangankan keuntungan yang didapat -- balik modal pun agaknya susah.


Baca juga:



Kelesuan ekonomi, persaingan bisnis yang ketat, dan banyaknya properti bekas yang dibeli orang -- menjadi penyebab lesunya bisnis properti.

Bagaimana menurut anda?


Baca juga:




Baca Juga
> Dapatkan profit hingga jutaan rupiah perbulan dengan bisnis PLR