w CARPAL TUNNEL SYNDROME --> Skip to main content



CARPAL TUNNEL SYNDROME


Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah tertekannya saraf tangan di daerah pergelangan tangan sehingga menimbulkan rasa nyeri, kesemutan, dan kelemahan otot tangan. Karena sering muncul pada malam hari, “hantu tangan” ini ditakuti oleh pekerja yang dominan menggunakan tangan. 

CTS pertama kali dikenal sebagai kumpulan gejala klinis oleh Sir James Paget pada kasus patah tulang lengan stadium lanjut pada tahun 1854. Barulah pada tahun 1938 istilah CTS diperkenalkan oleh Moersch.

CTS merupakan problem tangan yang sering dijumpai pada 5% populasi dewasa berusia 40-50 tahun. Rata-rata prevalensi CTS mencapai 9,2% pada wanita dan 6% pada pria. Insiden CTS mencapai 276 per 100.000 penduduk per tahun. Di Swedia, prevalensi CTS sekitar 2,7%. Di Inggris, prevalensi sekitar 7-16%. Di Indonesia, belum ada data pasti.


PENYEBAB CTS

Penyebab utama CTS adalah tertekannya saraf tangan di dalam terowongan karpal. Terowongan karpal merupakan lintasan kecil di antara flexor compartment lengan bawah dan ruang tengah telapak tangan, tepatnya di pergelangan tangan.

Penyebab lainnya adalah aktivitas yang memerlukan penggunaan tangan, pergelangan tangan, atau jari dengan kombinasi gerakan yang berulang dan intensif dan semua pekerjaan dengan alat yang menimbulkan getaran.

Gangguan keseimbangan dan penyakit juga menimbulkan CTS. Misalnya, infeksi (TBC), gangguan hormon gonadotropin, estrogen, progesteron, androgen, diabetes melitus, dan obesitas (kegemukan).


GEJALA PENYAKIT CTS

Gejala awal yang sering dirasakan adalah rasa nyeri, tebal, sensasi seperti dialiri listrik, atau kesemutan yang hilang-timbul di bahu, lengan atas-bawah, pergelangan dan telapak tangan, hingga jari-jari tangan, kecuali jari kelingking. Lalu, tangan terasa lemah dan cenderung menjatuhkan barang yang dipegang atau dibawa. Biasanya gejala timbul pada dua sisi tangan, perlahan-lahan, makin menghebat, tapi terkadang gejala dapat dikurangi dengan memijat-mijat, menggoyang-goyangkan, atau membenamkan tangan ke dalam air dingin.

Gejala ini dapat muncul kapan dan di mana pun, terutama saat tidur malam, sehingga penderita terbangun dari tidurnya. Juga dapat berlangsung saat menggenggam telepon atau handphone, membaca koran, memegang setir, dan sebagainya.

Banyak yang baru berobat setelah gejala berlangsung beberapa minggu. Bila diabaikan bisa semakin buruk, yang ditandai dengan merasa kesemutan sepanjang hari.


PENGOBATAN

Terapi konservatif CTS berupa steroid (sistemik dan suntikan lokal), obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID), diuretik, pyridoxine (vitamin B6), dan splinting. Obat golongan anti-inflamasi seperti Dexa-M yang mengandung Dexamethasone banyak ditemukan di apotek-apotek. Gunakan layanan pembelian obat secara online seperti Apotek 24 Jam apabila penyakit ini menyerang pada malam hari sehingga penderita tidak bisa membeli langsung ke apotek.

Injeksi (suntikan) kortikosteroid efektif dalam jangka pendek. Dalam dua belas bulan, efek suntikan mulai menghilang dan separuh penderita CTS yang disuntuk steroid kambuh.

Terapi nonfarmakologis berupa ultrasound, splint (pergelangan) tangan, dan terapi laser MLS (multiwave locked system). Efektivitas ultrasound masih kontroversial. Membidai (splint) pergelangan tangan terus-menerus atau hanya pada malam hari selama dua sampai tiga minggu. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengistirahatkan pergelangan tangan, fisioterapi (bila perlu), menata ulang tempat bekerja, dan memakai peralatan yang ergonomis.


Terapi pembedahan atau operasi (dengan teknik OCTR, Open Carpal Tunnel Release, atau ECTR, Endoscopic Carpal Tunnel Release) dapat dipertimbangkan bila terapi konservatif gagal dan gejala menetap.

Pada OCTR tidak ada kontraindikasi. Sementara pada ECTR, keadaan berikut merupakan kontraindikasi rematik, radang dan bengkak di tendon pergelangan tangan yang kambuh atau berulang, radang telapak tangan, yang sedang menjalani terapi dengan obat antikoagulan, dan terdapat massa atau malformasi (kelainan bentuk) yang nyata. ECTR pada pasien rawat jalan merupakan tindakan yang terpercaya, aman, dan relatif terjangkau.

Terapi pembedahan (operasi) memang lebih efektif daripada terapi konservatif untuk menuju pemulihan jangka panjang. Namun, perlu diketahui, seteah operasi, sebanyak 75% penderita membaik dan 8% memburuk.

Wanita hamil sebaiknya menunda operasi, sebab gejala CTS sering kali menghilang setelah persalinan.


Baca Juga
> Opini Kami Mengenai Sisi Gelap Bisnis Online di Era Sekarang